Sejarah Pondok Pesantren Al Amin Tunggul Paciran Lamongan

Agu 27, 2025 | Berita

Pondok Pesantren Al Amin Tunggul Paciran Lamongan adalah salah satu pesantren bersejarah di pesisir utara Jawa Timur. Cikal bakalnya berawal pada tahun 1930-an, ketika seorang ulama muda bernama KH. Muhammad Amin Musthofa datang dari Desa Kranji ke Desa Tunggul. Saat itu, masyarakat Tunggul masih dikenal sebagai Islam abangan, belum mengenal syiar Islam dengan baik, bahkan tradisi keagamaan belum tampak hidup.

Melihat kondisi tersebut, KH. Muhammad Amin Musthofa merasa terpanggil untuk menyebarkan ajaran Islam. Beliau merintis dakwah dengan merenovasi masjid desa, mendirikan pesantren yang diberi nama Madrasatul Islam wal Iman, dan berkeliling desa setiap Jumat untuk mengajak masyarakat hadir ke masjid, mendengarkan pengajian, serta memperoleh bimbingan agama. Tanah pesantren berasal dari wakaf H. Masykur (Kranji) serta pembelian dari warga desa.

Dalam pengajarannya, KH. Muhammad Amin Musthofa menerapkan metode sorogan dan menekankan kajian Al-Qur’an, hadis, serta ilmu-ilmu dasar Islam. Santri-santrinya banyak yang kemudian dikenal sebagai ulama dan pendiri pesantren di berbagai daerah. Ilmu yang beliau ajarkan bersumber dari gurunya, KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng, serta hasil pengembaraan di Makkah.


Perjuangan dan Pengorbanan

KH. Muhammad Amin Musthofa tidak hanya seorang pendidik, tetapi juga seorang pejuang yang gigih melawan penjajah Belanda. Pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1949, beliau bersama saudaranya, KH. Ahmad Muhtadi Musthofa, menolak untuk mengungsi meskipun Belanda telah menguasai banyak wilayah. Keduanya lebih memilih berjuang di tanah kelahiran.

Pada 9 Juli 1949, beliau ditangkap dan kemudian gugur ditembak Belanda di Desa Dagan bersama beberapa pejuang lain. Jenazah mereka dimakamkan di sana dan ditetapkan sebagai Taman Makam Pahlawan. Dengan demikian, KH. Muhammad Amin Musthofa dikenang bukan hanya sebagai pendiri pesantren, tetapi juga sebagai syuhada bangsa.


Masa Transisi dan Kebangkitan

Sepeninggal beliau, pesantren sempat vakum karena putra-putrinya masih kecil. Kepemimpinan sementara dipegang oleh menantu beliau, KH. Abdurrahman Syamsyuri (1949–1952). Setelah itu, pada tahun 1957, putra sulungnya KH. Ahmad Hazim Amin kembali dari nyantri dan memimpin pesantren. Beliau mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Al Amin dan menghidupkan kembali aktivitas keilmuan.

Kepemimpinan dilanjutkan oleh putra ketiga, KH. Mochammad Sabiq Suryanto Amin (1967–1970), meski tidak berlangsung lama karena beliau kemudian lebih aktif di pesantren mertuanya.


Era KH. Miftahul Fattah Amin

Tonggak kebangkitan besar pesantren terjadi pada tahun 1972, saat kepemimpinan diambil alih oleh putra keempat, KH. Miftahul Fattah Amin. Beliau adalah seorang hafizh Al-Qur’an yang kemudian mengarahkan pesantren pada fokus tahfizh dan pengajaran Al-Qur’an.

Di bawah asuhannya, pesantren berkembang menjadi sebuah yayasan pendidikan yang meliputi MI, SMP, SMA, PAUD, TK, dan Madrasah Diniyah. Metode pembelajaran Al-Qur’an pun berkembang dari Baghdadiyyah → Iqra’ (1986) → Tilawati (2014). Program unggulan tahfizh Qur’an diberlakukan sejak tingkat dasar, dengan penekanan khusus pada hafalan Juz ‘Amma.

Selain itu, KH. Miftahul Fattah Amin menggagas Majelis Khataman Qur’an (1978), darusan, serta program tahfizh santri yang hingga kini menjadi ciri khas Pondok Pesantren Al Amin.


Generasi Penerus

Adik beliau, KH. Abdullah Amin, juga memiliki peran penting dalam pengembangan pesantren. Meski tidak sempat bertemu ayahnya karena lahir setelah beliau gugur, KH. Abdullah Amin tumbuh menjadi ulama besar, meraih pendidikan hingga jenjang doktoral di bidang Tafsir Hadits, serta mengembangkan pendidikan Al-Qur’an untuk santri putri. Kini beliau menetap di Jakarta dan aktif berdakwah di masyarakat.


Warisan dan Peran Besar

Seiring berjalannya waktu, Pondok Pesantren Al Amin Tunggul Paciran terus berkembang. Dari yang awalnya hanya berupa masjid dan madrasah sederhana, kini telah menjadi pusat pendidikan Islam terpadu yang melahirkan banyak hafizh, ulama, guru, dan tokoh masyarakat.

Warisan terbesar KH. Muhammad Amin Musthofa adalah semangat dakwah dan perjuangan—menghidupkan Islam di Desa Tunggul, mendidik generasi santri, serta gugur sebagai pahlawan bangsa. Pesantren Al Amin hari ini berdiri kokoh sebagai bukti nyata bahwa perjuangan dan pengorbanan beliau tidak sia-sia.

SUMBER:

  • Sejarah Perkembangan Yayasan Al Amin Tunggul PaciranOleh : Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag., M.Ag dan Ade Amiroh